Postingan

Cerpen

Gambar
Selendang Mayang Tahun Pertama Barangkali benar, Mayang bukanlah gadis kecil pada umumnya. Wajahnya ayu putih bersih, langkahnya lemah gemulai, tubuhnya tak gemuk juga tak kurus. Anak itu tak ubahnya seperti Dewi Candra Kirana dalam kisah-kisah legenda. Di pipinya terdapat lesung pipit. Saat tersenyum, ia akan nampak sangat manis. Sorot matanya bak purnama di malam hari. Sayangnya, rambut yang dimilikinya tak bisa terurai sempurna. Antara helai satu dengan lainnya saling menyatu. Konon, rambut itu akan kembali normal setelah diruwat. Namun, hal itu tak terjadi pada Mayang. Rambut gimbalnya kembali tumbuh. Sejak saat itu, ia dikucilkan. Mayang yang hidup sebatang kara, tanpa bapak tanpa biyung, menutup diri dari masyarakat. Ia tak pernah lagi bermain, bahkan tertawa. Kini, ia adalah gadis kecil yang pendiam dan pemurung. Mayang yang seorang diri itu diangkat cucu oleh Ki Bremana, sesepuh Desa Giyanti. Ki Bremana juga tak punya siapa-siapa. Ia melajang hingga usian...

Resensi Novel: Menyelami Kisah Pemberani Si Anak Badai

Gambar
Menyelami Kisah Pemberani Si Anak Badai               Si Anak Badai merupakan sebuah novel karangan penulis legendaris Indonesia, Tere Liye. Novel tersebut berhasil diterbitkan oleh Penerbit Republika dengan cetakan pertamanya di bulan Agustus 2019 silam. Memiliki 322 halaman dengan ketebalan 21 cm, novel ini merupakan novel keenam dari Serial Anak Nusantara yang mana cerita di dalamnya berdiri sendiri tanpa ada kaitannya dengan novel- novel terdahulu seperti Si Anak Pemberani, Si Anak Spesial, Si Anak Pintar, Si Anak Kuat, dan Si Anak Cahaya.             Tere Liye lahir di Lahat pada 21 Mei 1979. Dia adalah anak keenam dari tujuh bersaudara yang tumbuh dalam   keluarga sederhana. Meskipun demikian, Tere Liye telah menyumbangkan banyak karya yang sangat menginspirasi dan mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat.     ...

Strategi Dakwah dan Perkembangan Islam di Indonesia

Gambar

Sebuah Langkah

Gambar
Pernah aku bergurau pada udara yang berembus juga ombak-ombak kecil yang terus membasahi pasir. Aku berkata, "Kelak, arusmu akan membawa langkahku pada seseorang."  Dengan gemuruhnya, angin itu berbisik, "Apakah kau yakin? Bagaimana mungkin?"  "Mengapa kau bertanya demikian? Tak maukah engkau mengantarkanku padanya?" tanyaku. Dengan tenangnya, ombak-ombak kecil bertutur, "Waktulah yang akan mempertemukan  kalian. Dirimu, hatimu, perasaanmu, akan dimengerti suatu saat nanti."  "Benarkah?" Tentu saja. Apakah kau masih ragu?  Gemintang masih tetap pada tempatnya, rembulan silih berganti menunjukkan cahayanya,  laut-laut masih membiru dengan ombaknya,  dan kisahmu pun masih akan terus mengalir selama dunia ini masih ada.   Kau dengannya bagaikan anak panah dengan busurnya. Bagaimana mungkin si anak panah bisa melesat jauh tanpa busur?  Ketika kau sedang jatuh hati, dirinya akan selalu a...

Mentari yang Tak Pernah Sambat

Gambar
Sebuah Kisah untuk Mengenal Berbagi Gutenberg.rocks Berapa sering kita berbagi? Apakah dengan berbagi menandakan jika kita ini orang yang justru sangat membutuhkan pertolongan dari orang yang kita bagi? Apakah mereka yang pantas untuk berbagi hanyalah orang yang pandai, kaya, dan terkemuka di hadapan publik? Coba kita berpikir lebih dalam lagi, siapa orang yang boleh berbagi? Bagi saya, semua orang memiliki hak untuk berbagi, tanpa memandang suku, agama, ras, budaya, gender, maupun derajat. Bagi beberapa orang yang berpikiran sempit, akan lebih mudah untuk berkata, “Saya itu orang yang tidak punya apa-apa, jadi saya tidak mampu berbagi saat ini. Untuk biaya hidup saja sulit, lalu kalau saya berbagi, mau makan apa nanti anak-anak saya?” Bagi mereka, berbagi mungkin hanya sebatas pemandangan dalam bentuk materi yang mana materi adalah segalanya bagi orang lain. Orang yang berpikiran sempit seperti itu adalah orang yang mengedepankan sikap hedonisme yang sudah melek...

Resensi Fihi Ma Fihi

Gambar
Menyelami Pola Pikir Maulana Jalaluddin Rumi, Pengarung  Samudera Kebijaksanaan https://www.sejutabuku.com F ihi Ma Fihi merupakan salah satu karya Maulana Jalaluddin Rumi yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh FORUM dengan cetakan pertama bulan Januari 2014 yang sebelumnya telah disunting oleh Abd. Kholiq. Buku yang memiliki ketebalan 538 halaman dengan 71 pasal ini sebagian besar berisi jawaban dan tanggapan atas beragam pertanyaan yang diberikan kepada Maulana Rumi pada masa hidupannya. Maulana Jalaluddin Rumi, penulis kitab Fihi Ma Fihi lahir di Kota Balkha, salah satu kota di daerah Khurasan, pada 30 September 1207 M. Ayah penulis kitab ini bernama Bahauddin Muhammad yang merupakan seorang pakar fiqih, pemberi fatwa, sekaligus guru tarekat al-Kubrawiyah dengan julukan Sultan al-Ulama. Penulis kitab Al-Majalis as-Sabah, Majmuah ar-Rasail, Diwan Syams Tabrizi, Rubaiyat, Matsnawi, dan Fihi Ma Fihi ini merupakan seorang...